Tampilkan postingan dengan label Kisahku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisahku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Oktober 2013

PPL : Introduction

Makan siang bersama : Es Tawuran
              Sudah semestinya lingkungan manusia selalu berpindah-pindah sesuai kepentingan dan zamannya. Kali ini saya akan mengupas (belum habis) mengenai perjalanan saya dalam ranah Program Pengenalan Lapangan yang biasa disebut PPL.
            Seperti yang kita ketahui bahwa menjadi seorang calon guru harus menjejaki proses PPL, awalnya memang terbayang hal-hal yang mengerikan, menakutkan, ketidaksiapan, bahkan tidurpun tak nyenyak lantaran membayangkan begitu terjalnya perjalanan PPL ini. Namun dalam perjalanannya setapak demi setapak, rasanya sungguh nikmat menjadi seorang pengajar dan pendidik. Ya ibarat sedang meniti lembah curam ketika naik gunung, namun terbayar dengan pemandangan cantik di puncak gunung.
            Mendapatkan sekolah dibawah naungan Kementrian Agama yakni MAN Cirebon 1 memang suatu keberuntungan buat saya, terang saja lingkungan sekolah sangat islami dan penuh akhlak. Kami yang putri diwajibkan untuk mengenakan rok setiap memasuki kampus MAN Cirebon 1. Saya bersama ke-13 teman yang baru saling mengenal yakni : Idalaloka (Bhs. Inggris), Asih Setiani (Bhs. Inggris), Nisa Muflihah (Bhs. Inggris), Yugi Melasih (Bhs. Inggris), Melan Nur Afiah (Bhs. Indonesia), Abdul Majid (Bhs. Indonesia), Teguh Gianara Sakti (Ekonomi), Andri Hasan (Ekonomi), Alifiyyah Indah Sasi (Ekonomi), Siti Nuraeni (Matematika), Muhammad Riadusolihin (Matematika), Rhiany Erlinda (Matematika), dan Yogi Samudin (Matematika). Dengan ketua kelompok : Teguh. Kendati kami ber 14 baru saling mengenal, namun perihal kekompakan cukup diacungi jempol.

            Mengajar dan mendidik sejatinya adalah masalah kesabaran dan ketulusan. Beruntung kami ditempatkan di kelas X yang memang merupakan siswa baru dan belum terbentuk karakternya sehingga kami diharapkan dapat membentuk karakter yang berakhlak sekaligus berdedikasi tinggi. Adapun guru-guru MAN Cirebon 1 sangat welcome dan ramah akan keberadaan kami. Setiap harinya, budaya bersalaman setiap kali bertemu guru terus dilakukan. Tak ayal, bisa berkali-kali bersalaman jika kami sering bertemu salah seorang guru dalam sehari.  

Selasa, 09 Juli 2013

Kalimat terbaik dari Sahabat


            Persahabatan sejatinya adalah tempat yang paling sulit ditemukan, ya begitulah makna sahabat menurutku. Sangat mudah untuk mendapatkan teman yang hanya sekadar teman, sebaliknya sulit sekali menemukan satu sahabat saja. Namun jika kita memiliki pribadi yang tulus, dengan mudahnya sahabat akan menhampiri kita. Kesempatan kali ini aku ingin berbicara mengenai ‘Persahabatan’.
            Sore itu begitu teduhnya hingga aku dan sahabatku duduk dibawah pohon yang melambai-lambai tertiup angin. Seperti biasanya kami biasa menghabiskan waktu untuk sekadar bercengkrama, berkeluh kesah, dan berbagi mengenai makna kehidupan. Tak jarang tawa, tangis, kami luapkan dibawah pohon itu. Meski masalah yang kami hadapi terkadang belum menemukan jalan keluar, namun dengan berbagi hati kami merasa lebih baik.
            Kami berbicara dengan tatapan kosong keujung jalan. Kala itu, meski mulut kami sedang mengobrol namun pandangan kami tetap tertuju pada satu titik yaitu ‘jalan raya’. Hingga satu pertanyaan sahabatku sontak membuyarkan lamunanku. ‘Ti, Kamu pernah nggak doain aku?’, tanyanya dengan lugu. Dengan terheran aku langsung menatapnya tajam ‘Kok tumben nanya begituan, ya jelas aku sering do’ain kamu’, jawabku. Sambil tersenyum simpul sahabatku membalas ‘hehe, pengen tau aja. Aku juga sering doa’in kamu Ti, menjelang tidur aku selalu berdo’a dan aku bersyukur punya sahabat seperti kamu yang mau ngertiin aku.’. Dengan hati yang bergumam, dalam diam aku berkata dalam hati ‘Aku juga sangat bersyukur memiliki sahabat sepertimu’.
            Kalimat itu merupakan pertanyaan terbaik yang dilontarkan oleh sahabat. Yang meminta do’a lumayan banyak, misalnya ‘do’ain aku ya!’, namun belum pernah ada yang menanyakan mengenai do’a seperti ini ‘kamu pernah nggak do’ain aku?’. Terang saja, dia yang bertanya seperti itu sangat menyentuh siapa saja yang menjawabnya.

Sabtu, 08 Juni 2013

Pare, All the way live

Lokasi : Gumul, Kediri- Jawa Timur
            
               Tak ada kata terlambat untuk sebuah karya. Meski ini merupakan perjalanan maretku, namun saat ini baru sempat ku torehkan lewat jemari lentikku ini. Inilah sebuah ringkasan ceritaku tentang PARE, dan cerita lengkapnya sedang ku curahkan lewat sebuah novelku (Insya Allah) mendatang.
            Siapa yang tidak kenal PARE. Ya, kata PARE hampir akrab di telinga orang-orang. Pare yang kusebut kali ini bukan sebuah nama sayuran, namun ini sebuah daerah yang dikenal dengan ‘Kampoeng Inggris’. Berlokasi di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Pare merupakan sebuah Kecamatan yang amat asri dengan penduduk berbahasa jawa.
            Tepatnya 8 Februari 2013 sampai dengan 10 Maret 2013 adalah rentetan kisah-kisah yang tak terlupakan di Desa Tulungrejo, Pare. Berbekal niat untuk menuntut ilmu dan pengorbanan hidup jauh dari orangtua tak mematahkan niatku untuk belajar disana. Banyak momment menarik dan sangat berkesan yang tak mungkin aku lupakan sepanjang hidupku.
            Berikut kumpulan cerita singkatnya:
    §      Awal menjajakkan kaki di Pare, lidahku belum dapat kawin dengan karakter makanan disana. Lidah orang Cirebon yang tajam akan bumbu, tak kudapati makanan yang sama dengan Cirebon. Kurang asin, Kurang nendang sudah biasa. Terlebih lagi dengan warna saus yang pink, kontras dengan warna saus yang biasa ku konsumsi merah menyala. Makanan khas disana adalah ‘Pecel’ dan ‘Pentol’ (di Jawa Barat dikenal dengan Cilok).
     §      Kekagumanku pada Pare salah satunya lantaran lingkungan yang masih asri dan tidak padat kendaraan yang berlalu lalang. Mayoritas kendaraan yang dipakai adalah Sepeda, tak heran bila disana banyak wirausaha yang membuka ladang penyewaan sepeda. Setiap hari, kawan sejatiku yang mengantarkan aku mencari ilmu dan mencari makanan adalah sepeda. Aku baru menikmati lagi moment mengendarai sepeda itu setelah hampir 10 tahun (SD).
      §      Lantaran lokasi desa yang tidak strategis, sulit untuk menuju kemana-kemana. Tidak ada angkutan umum (hanya ada di Kediri nya) sehingga aku tak jenuhnya harus mengayuh sepeda sejauh apapun itu. Untuk menuju ATM atau alun-alun misalnya, 2 hingga 3 kilometer jarak yang kutempuh. Selama sebulan disana, aku belum tahu dimana Pasar terdekat berada (saking jauhnya).
    §      Disana, lembaga kursusan yang kuambil adalah ‘Marvelous’. Sesuai motonya ‘Siap mempermak inggris kamu dan guru kamu’, marvelous memang pilihan yang tak salah (terima kasih untuk Dosen yang telah memberikan referensi). Awalnya, aku memang ragu, terlebih dengan penampilan pengajar yang apa adanya. Namun, aku sangat mengagumi pengajar-pengajar itu, American accents mereka sangat fasih padahal mereka bukan kuliah di jurusan bahasa Inggris (aku malu sendiri).
    §      Hampir seluruh pengajar, hafal phonetic symbol dari setiap kosakata yang terdapat di kamus Oxford. What an amazing teacher! . Aku selalu terpesona melihat seluruh pengajar yang menuliskan kata sebanyak apapun dan serumit apapun lengkap dengan phonetic symbol (tanpa melihat kamus Oxford). Padahal, latar belakang mereka sama sekali bukan Inggris (bahkan ada pengajar yang berusia dibawahku). Setiap kali mereka mengajarkan materi, ternyata aku baru menyadari banyak sekali pengucapan yang selama ini salah (seperti cara membaca Oxford, and, today, dan lain-lain).
     §      Lantaran program Speaking yang ku ambil, materi yang diajarkan selalu berkenaan dengan speaking. Salah satunya adalah bahasa slang, tongue twister (untuk melenturkan lidah menjadi lidah inggris) dan idioms. Sangat menarik mempelajarinya, benar-benar diajarkan berbicara layaknya seorang ‘bule’.
   §      Wisata yang terkenal di Kediri adalah Gumul. Kontruksi bangunan yang mirip bangunan yang berada di Paris ini menjadi magnet tersendiri. Tak heran bila banyak yang mengunjungi tempat ini untuk sekedar mengambil bebrapa foto. Beruntungnya, orang-orang yang ingin memasuki wisata ini tak dikenakan biaya alias gratis (kecuali parkir).
            Diatas merupakan sepenggal cerita singkat, cerita selengkapnya tunggu di novelku mengenai Pare yang sedang dalam proses.

Jumat, 07 Juni 2013

Malaikat-malaikat Kecil Tanpa Dosa


                

      Kehidupan memang tak luput dari konteks mengajar dan belajar, karena hidup adalah proses pembelajaran. Begitulah salah satu falsafah hidup yang aku yakini. Terlebih lagi almamater mahasiswi  yang terpampang jelas dibadanku. Ya, sebagai seorang mahasiswi FKIP Bahasa Inggris, aku dituntut untuk cinta anak-anak .
            Sebuah kesempatan yang emas ketika salah satu dosenku memberikan tugas untuk melaksanakan magang di SD. Setelah kami (aku, Corry dan Lilis) menelusuri sebagian SD dan memilah-milah lokasi yang strategis maka kami memilih untuk melakukan magang di SD Negeri Larangan 1. Tak kusangka, respon sekolah sangatlah baik dan terbuka atas kehadiran kami.
            Awalnya, kami memang mengajar di kelas 4. Namun lantaran jadwal kuliah yang berebenturan dengan jadwal mengajar, akhirnya kami memilih kelas 5 untuk kami ajar di hari sabtu (tidak ada jadwal kuliah dihari sabtu). Inilah awal perjalananku mengenal karakter siswa. Guru pamongku cenderung memberikan aturan yang sangat beragam, tetapi untukku itu merupakan sebuah perhatian yang dia berikan untuk mengajarkanku tentang arti kedisiplinan. Aku sangat beruntung diperhatikan olehnya mengenai hal sekecil apapun.
            Mengajar anak-anak SD merupakan pengalaman yang sangat langka, disana aku mendapati karakter siswa yang sangat beragam. Aku belajar mengenai arti kesabaran, keikhlasan, dan ketulusan. Karakter siswa yang memang lugu dan berbicara apa adanya membuatku terhibur dan tumbuh rasa sayangku pada mereka. Terlintas di benakku untuk terus mengajar mereka meski masa magang hampir usai.
            Petuah mengatakan ‘Ada pertemuan, pasti ada perpisahan’. Ya, hal yang paling memilukan adalah ketika kita harus meninggalkan orang-orang yang baru saja nyaman dihati kita. Dan perpisahan hidupku kali ini adalah berpisah dengan anak-anak yang aku sayangi. Tepatnya 18 Mei 2013 adalah hari mengajar terakhir disana. Sedih memang, namun apa daya memang inilah jalan hidup. Diakhir pembelajaran, aku bersama siswa-siswamengabadikan moment terakhir dengan berfoto bersama didepan kelas. Sangat miris sejujurnya, di satu sisi aku melihat wajah anak-anak yang lugu, sangat sumringah dan antusias melakukan foto, namun disisi lain hatiku yang pilu lantaran ini merupakan hari terakhir. Kami akhiri hari itu dengan penuh kesan.
            Itulah sepintas momment berarti dalam hidupku bersama malaikat-malaikat kecil tanpa dosa. Semoga suatu saat kelak kita dipertemukan kembali di waktu dan ruang yang berbeda.

Kamis, 24 Januari 2013

Dibalik nama 'Tuti Alawiyah'


    Mungkin terkesan terlalu terbuka sekali saat aku kini menceritakan bagaimana bisa orang tuaku memberiku nama ‘Tuti Alawiyah’, namun sekedar hanya untuk berbagi saja akan saya ceritakan.
       Tepatnya 28 September 1992. Ibuku yang tengah mengandungku 9 bulan akan melahirkanku (anak pertama), namun saat itu ayah tidak bisa mendampinginya karena ayah memiliki usaha di Jakarta. Senin malam itu, ayah diberitahu pihak keluarga di Cirebon kalau ibuku akan melahirkan. Segeralah ayah berkemas-kemas untuk pulang ke Cirebon.
      Didalam bus menuju Cirebon, disamping ayah ada seorang yang berkata pada ayah,”Sedang punya kerepotan yah Pak?’, ayahku menjawab ‘iya, istriku mau melahirkan’. Sosok laki-laki itu rupanya bisa meramal, dia bilang kalau aku akan lahir jam 10 malam dengan jenis kelamin laki-laki. Ayahku kurang percaya dengan ramalan itu dan ia biasa-biasa saja menanggapinya.
         Namun, saat diberi kabar kalau aku memang lahir pada jam 10, ayahku langsung mengira kalau perkataan laki-laki itu benar. Didalam bus, ayah mencari-cari nama bayi laki-laki, dan dia memilih nama ‘Yasir Arafat’, tokoh sejarah islam yang memukau. Ayah langsung senang dan tidak sabar melihatku.
    Setibanya di Cirebon, ayah kaget ternyata bayi yg ibu lahirkan itu berjenis kelamin perempuan. Langsung saja nama Yasir Arafat itu tidak terpakai. Ayah tetap senang melihatku. Selanjutnya ayah mencari-cari nama apa yg cocok untuk bayi perempuan. Ada seorang Kyai mengusulkan sebuah nama namun ayah tolak karena nama itu terlalu rumit. Akhirnya pilihan ayah jatuh pada nama ‘Tuti Alawiyah’.
        Pada tahun 1992 saat aku dilahirkan, tokoh Tuti Alawiyah sangat terkenal. Beliau adalah seorang penceramah, memliki pesantren, pernah menjabat sebagai Menteri Sosial dan Menteri Pemberdayaan Perempuan. Ayah memilih nama itu dengan harapan anaknya (aku) dapat menjadi orang besar seperti Tuti Alawiyah. Dalam bahasa Arab, Tuti memiliki makna ‘anak perempuan’ dan Alawiyah berarti ‘tinggi/luhur’. Berharap bahwa Tuti Alawiyah yang menjadi anak pertama ayahku dapat memiliki ilmu yang tinggi, budi yang luhur dan menjadi orang besar.
            

Rabu, 23 Januari 2013

Goretanku untuk Al-Muhajirin


       Pagi ini entah ada kekuatan apa, ada dorongan dari jemariku ini untuk menuliskan sebuah goretan indah di masa lampau. Ya, ketika aku menuntut ilmu di Pondok Pesantren Al-Muhajirin. Memang aku bukan santri ‘mukim’ seperti santri yang lainnya, mereka menyebutku ‘santri kalong’. Maklumlah aku tak menetap di pondok, hanya ikut belajarnya saja. Walau begitu, jiwaku untuk setara dengan santri yang lain amatlah kuat.
  Tepatnya setelah aku lulus SD dan Madrasah, ayahku menyuruhku untuk menimba ilmu, dia berkata ‘ilmu akhirat dan dunia itu harus seimbang, tuti sekarang masuk SMP jadi siang setelah pulangnya bisa belajar di Pondok’, aku tercengang saat ayah dengan tegas berkata seperti itu. Disisi lain, aku sebenarnya malu karna hanya aku satu-satunya yang bukan santri mukim. Namun akhirnya di hari pertama aku diantarkan ayah menemui Kyai pemilik pondok itu, yang tak lain adalah teman ayah semasa di Banten dulu.
        Hari pertama, aku langsung belajar bersama santri lainnya. Teringat sekali dalam benakku, pelajaran pertama yaitu nahwu (semua ustadz menyebutnya ‘bapaknya ilmu’). Kemudian dilanjutkan dengan kitab Durusul Fiqhiyah. Alhamdulillah disana aku diterima dengan baik dan ramah.
Beberapa hari berikutnya ada temanku ufi, aku bahagia sekali karena akhirnya aku tidak sendirian yang menjadi santri kalong. Sahabatku dari SD juga ikut belajar di pondok. Kemudian ada lagi sahabatku juga yang ikut belajar, Asep Mulyadi namanya. Kami bertiga menghabiskan waktu dan belajar di pondok bersama. Tak kenal panas dan tak kenal hujan, bermodal niat untuk Tholabul ‘ilmi. Sayangnya selulus SMP, Ufi dan Mulyadi berhenti belajar di pondok. Aku cukup terluka namun aku tetap semangat menjadi ‘santri kalong’ ditengah santri lainnya.
           Teringat ketika salah satu ustadz menyindirku. Dia berkata ‘Belajar itu harus ada bapak dan ibunya, kalau Cuma belajar dr bapaknya aja tidak akan bisa’. Aku sadar sekali beliau sedang menyindirku, maklumlah aku hanya belajar ilmu nahwu (bapaknya ilmu), dan aku tidak belajar ilmu shorof (ibunya ilmu). Terang saja, pagi aku belajar di SMP, sekolah umum. Namun aku membuktikan di Ujian Akhir, aku mendapat peringkat pertama diantara santri-santri lainnya.
          Setelah aku SMA, jadwalku mulai padat dan karena semua santri seusiaku sudah kembali ke kampung halamannya. Akhirnya dengan sangat berat, aku memutuskan untuk berhenti belajar di Pondok. Selama kurun waktu 5 tahun aku belajar disana.
       Bersyukur karena banyak yang baik padaku, seperti K.H. Harun Sulaiman (pemilik Al-Muhajirin) bersama istrinya, Ustadz Ade, Ustadz Bukhori, Ustadz Salman, Ustadz Masrukhan, Ustadz Soleh, dan pengajar lainnya. Serta teman-teman di Pondok yang banyak berasal dari daerah Banten. Terimakasih semua pengajar yang telah memberikan begitu banyak ilmu, dari mulai ilmu tarikh, nahwu, fiqih, hadist, tajwid. Semua ilmu-ilmu yang bermanfaat, kitab-kitab yang selalu membahas dari mulai yang kecil hingga yang besar.

           

Sabtu, 22 Desember 2012

Sepucuk Surat Kasih untuk Ibuku terkasih


Teruntuk ibuku tersayang...
Kuharap ketika engkau membaca surat ini, kau akan mengerti atas diamku selama ini, ibu..Ibuku yang menjadi perisai jiwaku...

Kau tahu, aku mencintai dirimu lebih dari aku menyayangi diriku sendiri, mungkin terdengar amat basi ketika seorang anak yang mengutarakan betapa dirinya mencintai ibunya, namun dari lubuk hati dan jiwa terdalam aku ingin kau tahu bahwa kau adalah nafas dan darahku, ibu..

Maafkan aku, mungkin dapat terhitung dengan jemari seberapa sering aku mengatakan secara langsung ‘aku menyayangimu ibu’. Maafkan aku.. Dengan diamku itu, sesungguhnya aku begitu sayang padamu, begitu ingin membuatmu bahagia..

Ibuku yang tak beranjak meski malam telah lenyap...‘Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia’. Aku selalu berkaca-kaca ketika menyanyikan sepenggal lagu itu, teringat dulu saat kita menyanyikan lagu itu waktu aku balita lalu kau mendekapku penuh makna. Ibu, terimakasih atas kesetiaanmu untuk selalu disampingku, menjagaku, menemaniku tak kenal waktu dan tak kenal lelah.. Kau memang begitu sempurna, bukan sekedar hujan yang hanya datang di selingan hari, bukan pula pelangi yang hanya muncul kala hujan telah usai.

Maafkan anakmu ini yang jauh dari akhlak, yang selalu lalai dari etika.. Tak terhitung banyaknya dosaku atas dirimu, ibu.. Aku ingat semasa aku kecil dulu, aku selalu marah ketika aku pulang sekolah dan aku menangis karena masakanmu yang tidak aku sukai. Aku  memasang wajah kusut ketika kau menyuruhku saat aku tengah lelah sekali. Akupun terkadang meninggikan suaraku kala kau tak juga mengerti maksudku.

Sementara engkau...?

Kau satu-satunya orang yang berada disisiku ketika aku sakit, tak pernah lelah dan mengeluh meski kau harus menemaniku sampai akhirnya kau tak memiliki waktu tidur. Kau satu-satunya orang yang membelaku kala aku dirundung masalah dan semua orang menghakimiku.. Kau pun tak pernah meninggikan suaramu meski aku selalu membuatmu jengah.
Maafkan aku, ibu.. Sesungguhnya itu semua kekuranganku, kekhilafan anakmu yang tak tahu etika ini, namun aku selalu berusaha untuk menjadi lebih baik, ibu..

Ibuku, lentera hidupku....Aku ingin membuatmu bahagia, bangga akanku. Saat ini di usiaku yang bukan anak-anak lagi, sejujurnya perjuanganku sejauh ini tak lain hanya ingin membahagiakan kau dan ayah.. Aku tak memikirkan tentang kebahagiaanku, yang selalu menjadi bahan renungan untuk maju adalah kau dan ayah..

Ibu.. saat kau terbaring sakit, aku menangis, berdo’a pada-Nya agar Dia memindahkan sakitmu itu pada ragaku. Mendengar rintihan sakitmu lebih dari sekedar sayatan pisau yang melukaiku. Akupun merasa sakit  ketika aku melihat air matamu jatuh berlinangan, rasanya ingin sekali memukul seseorang yang telah menggoreskan luka dihatimu.

Menuju hari ibu ini, aku ingin kau tahu betapa dalamnya rasa sayangku untukmu, betapa berperannya kau di hidupku. Tak terbayangkan bagaimana jadinya aku bila kau pergi, ibu... Karena salah satu alasanku berjuang sampai detik ini adalah karena engkau.. Karena engkaulah alasanku..

Beruntungnya aku memiliki bidadari dunia seperti kau, ibu... Terimakasih atas segalanya.. Aku berjanji, aku akan menjadi pohon peneduh untukmu kelak, meski saat ini pohon itu baru ku tanam dan belum dapat meneduhkanmu.

Aku berjanji..


Dengan kasih dan sayang tak berujung,


Anakmu,
Tuti Alawiyah

Kamis, 12 April 2012

The person who most inspired me..

Aku bermimpi, aku memiliki mimpi, karena dia yang mengajarkanku memiliki impian, serta karena dia alasanku memiliki impian...

Aku tau dia bukanlah mentari yang mampu memberikan sinarnya di jagat raya, bukan pula air yang terus mengalir tanpa henti dihilir sungai, bahkan bukan juga rembulan yang tak pernah lelah tersenyum dalam kegelapan... Tapi bagiku dia lebih dari mentari, lebih dari air dan jauh lebih dari rembulan.. Sosoknya yang mampu memberikan cahaya terang saat aku tak tahu arah jalan pulang, saat aku tak bisa melihat kebijakan dan selalu memberikan kesejukan didalam hati lebih dari sejuknya air di hilir sungai.. Siapa Dia?

Yah, Dia adalah ibuku..

Seorang wanita yang menjadi pelindungku, penyemangatku, yang memberikan kehangatan dalam kekalutan.. Ia tak pernah mengeluh dalam apapun, dalam memahamiku.. Sosok yang tangguh, kokoh nan kuat..

Bagiku, dia lebih dari segalanya. Aku menyayanginya lebih dari aku menyayangi diriku sendiri, sakit rasanya saat tau dia tersakiti, pedih rasanya saat tau dia menanggung peluh.. Terkadang caraku yang salah selalu membuat ibu sakit dan aku selalu berusaha untuk selalu memberikanmu yang terbaik, untuk tidak mengecewakanmu...

Langkahmu yang semakin tergoyah dimakan usia, tak akan membuat jiwamu kian rapuh. Karena aku tau kau amatlah kuat, tangguh.. Beruntungnya aku memilikimu ibu, Andainya engkau tau kaulah yang menjadi malaikat di kehidupanku, aku menyayangimu lebih dari yang kau tau..

Karena Tuhan mengirimkanmu untuk menjadi malaikat hidupku,,

My Mom.. You’re my everything, You’re my all and You are all I need in the world.. Yesterday, now, tomorrow and forever...

Rabu, 29 Juni 2011

My Motivator


Beliau sangat berpengaruh di kehidupanku, sungguh sangat mengobarkan semangatku... ingin rasanya memiliki semangat jiwa seperti itu yang bisa membantu orang lain yang tengah Down... MARIO TEGUH, ya... semua orang pasti mengenalnya... beliau adalah sumber motivasi dan inspirasiku setelah keluargaku.

Seandainya saya dapat bertemu dan berbagi cerita dengannya, pasti itu sebuah sesuatu yang sangat luar biasa....

Minggu, 28 November 2010

senang rasanya tergabung dalam kelas terkompak..halah... ya iya lakh, secara gt masih tingkat satu udah foto satu kelas gt... ya mudah-mudahan sampai 4 tahun nanti kita akn semakin erat kekeluargaannya...amien

Senin, 18 Oktober 2010

LECTURE

ternyata kuliah gag serumit yang saya bayangkan.. yah saya bersyukur bisa beradaptasi dengan teman-teman, Dosen dan lingkungan serta tugas-tugasnya. banyak juga sih tugas-tugasnya tapi saya menyukai itu.. tantangan.. yeahh tantangan untuk menjadikan aku membarukan hidupku. thanks buat semuanya yang sudah membantu saya..

Sabtu, 24 Juli 2010

MEMASUKI BANGKU KULIAH

Saatnya tiba, selamat tinggal putih abu-abu, aku bukan lagi seorang siswa sekarang tapi akan memasuki bangku kuliah.. gimana yah rasanya?... udah gag sabar. meski masih berat berpisah dengan kawan-kawan SMK Negeri 1 Kedawung khususon buat anak-anak AP1 yang selama 3 tahun terus bersama dikala suka maupun duka..halah.

Semuanya berlalu, kini masa depan sudah didepan mata. aaaaaAku harus bisa menggapai mimpi2, angan2, harapan2 serta cita2ku... yeahh..

Senin, 19 April 2010

SAATNYA TIBA

Rasa-rasanya baru kemarin saya memasuki dunia SMK.. dan tidak terasa hampir 3 tahun berlalu dan artinya semuanya akan meninggalkan saya... dari teman2,guru serta semua yang menyangkut sekolah.... gak terasa saya akan pergi menentukan jalan hidup saya.. dan teman2 pun juga akan memilih jalan hidupnya masing-masing...

Pasti akan sangat sedih untuk meninggalkan semuanya...
namun, itu sudah hukum alam... ADA PERJUMPAAN PASTI ADA PERPISAHAN.

Senin, 29 Maret 2010

FASE MENUNGGU

Ujian Nasional udah selesai tapi perasaan ini malah semakin gak karuan yah?... campur aduk... gelisah,resah,gundah.... ikhtiar sudah, berdoa sudah, tinggal tawakal saja... mudah-mudahan saat pengumuman nanti tidak mengecewakan.. amiin... lebih kurang sbulan lagi saya harus menunggu saat-saat pengumuman.. kita sama-sama berdoa saja kawan-kawan!!...

Senin, 15 Maret 2010

Kekhawatiran Menghadapi UN

banyak diantara kita yang sangat khawatir akan Ujian Nasional yang akan dilaksanakan sebentar lagi.. perlu kita bertanya pada diri kita sendiri. sebenarnya apa yang kita takutkan UJIAN atau TIDAAK LULUSNYA?... mungkin keduanya merupakan sama-sama mengerikannya.. UN diibaratkan sindrome yang selalu melanda anak-anak.. seakan maut yang akan menentukan nasib kita...

Kemudian selain itu, kita juga perlu merenungkan sebetulnya apa yang lebih penting PROSES atau HASIL... pasti kita akan memilih menjawab HASIL karena diiberatkan jika kita sudah belajar sungguh-sungguh namun pada akhirnya kita tidak lulus... itu sama saja bohong...

ASumsi kita seperti itu sangat salah... karena sebetulnya PROSES itu lah yang sangat penting... karena memang lulus atau tidak lulusnya seseorang bukan jaminan untuk kita menjadi sukses...

GOOD LUCK semua yang akan melaksanakan UN...